Pages - Menu

Pages - Menu

Jumat, Maret 1

Dead End


Jake as Azka.
Sunghoon as Satya.

Misteri masih belum terungkap, apa maksutnya? Azka tidak memahami alur hidupnya sendiri. Apakah ia terjebak pada sebuah permainan yang tak ada akhirnya?


''Permisi? kamu tau namaku dari mana?'' tanyanya sambi menunjuk kertas yang baru saja disodorkan oleh Azka. Azka menuliskan lagi kata-kata pada kertasnya 'tidak mungkin jika kamu tidak mengenalku, kita sudah berkenalan dari kemarin', lalu menyodorkan kembali pada pemuda didepannya. ''Kapan? aku rasa kita tidak pernah bertemu, baru kali ini saja'' jelasnya, Azka semakin bingung. Pemuda didepannya dapat mengetahui kebingungan yang lagi dialami oleh Azka.

Azka semakin bingung dengan jawaban Satya. Dalam keputusasaannya, ia menuliskan kembali pada kertasnya dengan ketegasan, menyatakan bahwa mereka seharusnya sudah berkenalan sebelumnya.

Namun, dengan tenang, Satya menjawab bahwa ini adalah pertemuan pertama mereka. Azka semakin terkejut dan bingung, mencoba memahami kejadian yang terjadi. Dengan tatapan penuh tanda tanya, mereka berdua saling memandang, mencoba mencari jawaban di dalam kebingungan yang mereka alami.

Di tengah kegelapan malam yang menyelimuti, misteri pertemuan mereka yang tak terduga semakin kompleks. Azka dan Satya duduk di tepi jembatan, sementara pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban terus menghantui pikiran mereka.

Dengan hati yang terbebani oleh kebingungan dan ketidakpastian, Azka akhirnya menyerah pada misteri yang belum terpecahkan. Meskipun berusaha keras untuk memahami dan menemukan jawaban atas pertemuan tak terduga dengan Satya, ia merasa putus asa karena setiap upaya tampaknya mengarah pada jalan buntu.

Dengan langkah yang berat, Azka menerima bahwa beberapa misteri mungkin tidak akan pernah terungkap, dan bahwa ada saat-saat di mana kita harus belajar menerima ketidakpastian dalam hidup. Dalam keputusasaannya, ia merasa lega ketika membebaskan dirinya dari beban untuk terus mencari jawaban yang mungkin tidak akan pernah ditemukan.

Dalam keheningan yang menyelimuti, Azka masih terduduk di bangku taman, matanya terpaku pada lautan yang tenang di depannya, pikirannya melayang jauh. Sementara itu, Satya duduk di sebelahnya, masih terbungkus dalam kebingungan tentang siapa sebenarnya sosok asli di sampingnya.

Dalam keheningan malam yang sepi, pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban terus menghantui mereka. Meskipun begitu, Azka dan Satya terus duduk di sana, menyatu dengan keheningan malam yang tenang, sambil menunggu jawaban yang asli membawa harapan baru dan mungkin jawaban atas misteri yang masih menghantui pikiran mereka.

Paginya..

Dengan hati yang masih dipenuhi oleh ketidakpastian, Azka dan Satya memutuskan untuk bertahan di tempat mereka yang terduduk di bangku taman, di bawah sinar pagi yang mulai menyingsing. Ketika cahaya matahari mulai menyinari lautan yang tenang di depan mereka, Satya menarik cuilan kertas dari buku miliknya.

Dengan hati-hati, Satya menuliskan pertanyaan sederhana, "Kau tidak pulang?" di atas kertas itu, lalu menyerahkannya kepada Azka. Tatapan mereka bertemu sejenak.

Dengan perasaan campur aduk, Azka memandang kertas yang baru saja diberikan oleh Satya. Meskipun ragu, ia mengambil pulpen dan menuliskan jawaban singkat, "Tidak, aku tidak punya tempat yang kuhubungi 'rumah'.''. Ketika Satya membaca jawaban Azka, ekspresi belas kasihan dan empati terpancar dari matanya. Tanpa kata-kata.

Hening..

Azka tersenyum kecil sambil merasa malu karena suara perutnya yang berbunyi di tengah keheningan. Namun, senyumnya semakin melebar saat melihat Satya tertawa kecil dan menulis kembali di kertas tersebut.

"Kelihatannya ususmu harus diisi, mau makan dekat sini?" tulis Satya dengan ramah.

Azka merasa hangat melihat kebaikan hati Satya dan mengangguk setuju dengan senyum. Mereka berdua bangkit dari bangku taman dan berjalan bersama ke arah tempat makan terdekat.

Di tengah perjalanan mereka, Azka merasa terharu oleh kehadiran Satya yang setia di sampingnya, ia juga heran bagaimana seorang sempurna sepertinya mau berteman dengan dirinya yang memiliki kekurangan seperti ini?

Dengan langkah yang ringan dan hati yang penuh dengan harapan, Azka dan Satya melanjutkan perjalanan mereka bersama.

Ditempat..

Setelah memasuki tempat makan 24 jam, Azka dan Satya mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah menemukannya, Satya langsung menginstruksikan Azka untuk duduk dan kemudian menanyakan melalui kertas, "Apakah kau bisa bahasa isyarat?"

Azka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dan Satya tersenyum ramah. Ia merasa senang bahwa ilmu yang pernah diajarkan oleh temannya yang memiliki kekurangan serupa dengan Azka dapat berguna. Dengan penuh antusias, mereka berdua mulai berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, mengatasi keterbatasan komunikasi yang biasa mereka hadapi.

Di dalam suasana yang hangat dan penuh harapan, mereka menikmati hidangan yang dipesan, saling berbagi cerita dan tertawa bersama. Bahkan tanpa kata-kata, kehadiran satu sama lain cukup untuk membuat mereka merasa diterima dan diperhatikan.

Setelah selesai makan, Satya memberikan isyarat pada Azka, "Sudah kenyang?" Azka merasa malu, merasa sungkan dengan kedermawanan Satya yang telah mentraktirnya untuk kedua kalinya eh? pertama kali maksutnya. Namun, Azka mengangguk kecil sebagai jawaban.

Melihat raut wajah Azka yang malu, Satya menanyakan lagi melalui isyarat, "Kamu akan tidur di mana bila tidak punya rumah?" Azka menunduk, merasa canggung dan terhimpit oleh rasa tidak nyaman. Satya merasakan bahwa Azka tidak nyaman dengan pertanyaan yang baru saja ia tuturkan, namun hal itu tidak dapat mengubah ide awal Satya yang akan mengajaknya untuk tinggal sementara bersama Azka hingga dirinya dapat menemukan yang namanya 'rumah'.

Tentu hal itu membuat Azka diam tanpa menjawab pertanyaan Satya barusan. Ia masih mematung dan memikirkan sebaik apa orang didepannya itu, Satya membubarkan lamunannya dan keputusan akhir Azka adalah ''baiklah, terimakasih orang baik'' serunya dalam bahasa isyarat.

Dalam perjalanan..

Dalam keheningan perjalanan mereka, hanya suara kicauan burung dan desiran ombak yang mengiringi langkah mereka di pesisir pantai. Azka merasa tidak nyaman, terganggu oleh perasaan yang tak pasti. Di depannya, Satya tampak menikmati pemandangan pantai sambil membawa tas ransel yang mungkin berisi buku-buku.

Namun, ketika Azka memandang ke depan, pandangannya terganggu oleh sesuatu yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Satya menoleh ke arahnya, tetapi Azka tiba-tiba menghilang dari sisinya. Satya mencari-cari Azka dengan cemas, tetapi tidak menemukannya. Rasanya seperti dikhianati.

Sementara itu, Azka sibuk dengan kehadiran anak kucing yang menarik perhatiannya. Ia tersenyum melihat kucing itu makan dengan lahap. Namun, terkejut saat disadarkan oleh sentuhan di bahunya. Azka menoleh dan menemukan Satya yang kini berdiri di sampingnya, wajahnya bercucuran keringat.

''Kau mengagetkanku saja!'' dengus Azka dengan bahasa isyaratnya, merasa sedikit tersinggung. Satya hanya melihat sekilas lalu menatap anak kucing itu. Azka merasa seperti diabaikan, memberikan tatapan sinisnya sebagai respons.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di halte bis dan duduk menunggu. Suasana masih terasa canggung di antara mereka. 

Akhirnya bis datang dan menghilangkan kecanggungan yang ada diantara mereka. Mereka masuk kedalam bisa tidak lupa membayarnya terlebih dahulu, dan duduk dibangku yang yang masih kosong.

Beberapa menit kemudian..

Kini mereka telah sampai dikos Satya. Satya langsung melemparkan tas yang menurutnya berat ke sofa, dan ia langsung menuju dapur untuk mengambilkan minum untuk Azka.

Sedangkan Azka, ia memperhatikan dengan seksama gerakan Satya yang begitu familiar dengan rumahnya sendiri. Rasa canggung masih mengendap di udara, tetapi juga terasa adem dalam keakraban yang mulai terbangun di antara mereka.

Saat Satya sibuk di dapur, Azka merasa sebuah tanggung jawab memenuhi hatinya. Ia ingin membantu, tetapi juga merasa tak enak mengganggu. Sambil menunggu, Azka memperhatikan sekeliling kosan Satya, mencoba membayangkan bagaimana kehidupan pemuda itu sehari-hari.

Satya menghampiri Azka dan duduk tepat depannya. Lalu ia Satya menyodorkan minuman pada Azka dengan senyum ramah, mengakhiri momen keheningan dengan tindakan kecil yang penuh kebaikan. Azka menerima minuman tersebut dengan ucapan terima kasih.

Tak terasa dari hari hingga ke bulan.. Kini Azka berada dikos an Satya telah menginjak umur ke 2bulan lamanya..

Waktu telah berlalu begitu cepat sejak Azka memutuskan untuk tinggal di kosan Satya. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, mereka berdua telah mengalami banyak momen bersama.

Dalam dua bulan lamanya, Azka telah menemukan kehangatan dan keakraban di kosan Satya. Bersama, mereka berbagi cerita, tertawa bersama, dan saling mendukung satu sama lain di tengah-tengah segala tantangan hidup. Kosan Satya telah menjadi seperti rumah kedua bagi Azka, tempat di mana ia merasa diterima dan dihargai.

Azka merasa nyaman di kosan Satya, di sana dia menemukan ketenangan dan dukungan yang telah lama dia cari. Namun, pertanyaan yang muncul di benaknya adalah apakah dia akan kembali bertemu dengan Satya jika dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya bersama ayahnya?

Meskipun masa depan tidak dapat diprediksi dengan pasti, namun ada kemungkinan besar bahwa pertemuan mereka akan terjadi kembali. Kehidupan memiliki cara yang tak terduga untuk menyatukan kembali orang-orang yang sebelumnya terpisah, dan pertemuan kembali dengan Satya mungkin adalah bagian dari perjalanan hidup Azka.

Namun, bagaimanapun juga, Azka tahu bahwa apa pun yang terjadi di masa depan, persahabatan mereka dengan Satya telah memberikan warna dan makna yang mendalam dalam hidupnya. Meskipun pertemuan mereka mungkin berubah, hubungan mereka akan tetap menjadi bagian berharga dari kenangan dan pengalaman Azka. Dan dengan keyakinan itu, Azka siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi di masa depan, dengan harapan bahwa pertemuan mereka akan membawa kebahagiaan dan kedamaian.

END..

-qfs